Pages

Showing posts with label Zhuge Liang. Show all posts
Showing posts with label Zhuge Liang. Show all posts

Saturday, August 25, 2012

Zhuge Liang - Prime Minister of Shu Kingdom

 

Zhuge Liang, also named Kong Ming, was born into an official family in Yinan County, Shandong Province. He was a famous statesman, ideologist and strategist during the Three Kingdoms Period (220 -280). As the Cheng Xiang (an ancient term for prime minister) of the Kingdom of Shu, he devoted his life to his monarch Liu Bei, and to the existence of the Shu Dynasty.

Zhuge Liang had an unfortunate childhood. His mother died when he was three years old and his father died when he was eight. After his father's death, he and his brothers and sisters all lived with his uncle Zhuge Xuan, a local officer. his uncle passed away a few years later, and 16-year-old Zhuge Liang began to live on his own.

Unwilling to serve under Liu Biao whom his uncle had followed, Zhuge Liang moved to the country in the Longzhong area, of Xiangyang in Hubei Province. There worked as a farmer while studying. During his ten years of reclusion, he met a group of contemporaries including Xu Shu, Pang Tong and Sima Hui. These men were considered the most intelligent people of that period. Through study and astute observation, he was not only an expert in astronomy and geography, but also mastered military strategy and tactics, and carefully analyzed political situations with great ambition.

In 207, on the recommendation of Sima Hui and Xu Shu, Liu Bei paid three visits to the thatched cottage of Zhuge Liang asking for his assistance. From the Longzhong area, he introduced his detailed plan for reunifying the whole nation. This both enlightened and pleased Liu Bei and his initiatives were subsequently called the 'Longzhong Dialogue'. From that point on, he began to assist Liu Bei in realizing his political goal to reestablish the Han Dynasty (206 BC - 220 AD).

Wuhou Memorial Temple, HanzhongZhuge Liang assisted Liu Bei and helped him through many difficult situations. Following his strategies, Liu Bei made an alliance with Sun Quan's group and defeated Cao Cao's troops in the Battle of Red Cliffs. Later, Liu Bei successfully captured Jingzhou, Yizhou and Hanzhong. With Zhuge's assistance, Liu Bei appointed himself emperor in 221 and Zhuge Liang was appointed as Cheng Xiang to preside over political affairs. In 223 when Liu Bei died, he was entrusted with Liu Bei's son, Liu Shan.
After Liu Shan succeeded his father, Zhuge Liang was authorized as Wuxiang Hou (a title of vassal who was given the land of Wuxiang (in current Hanzhong) and appointed the chief executive of Yizhou (most areas of current Sichuan Province). During his tenure, he was always diligent and conscientious in governing the Kingdom of Shu. As a loyal chancellor, he devoted all his efforts to realize Liu Bei's political ideal. He aligned the Shu with the Wu, implemented the Tun Tian System (farming done by soldiers) and consolidated the military strength of Shu. He launched six consecutive northern expeditions to the central plains. Unfortunately, he failed to conquer any northern area and did not accomplish Liu Bei's goal of full unification

In 234, during the last northern expedition battle with the general of the Wei Sima Yi, Zhuge Liang died of exhaustion at Wuzhang Plain (currently southwestern of Mei County in Shaanxi Province).



__,_._,___
readmore »»  

Tuesday, August 21, 2012

Zhuge Liang Meminjam Anak panah

 
Pada abad ketiga Masehi, Tiongkok terbagi menjadi tiga negara (San Guo atau Samkok) yang selalu dirundung peperangan, yakni negara Wei di sebelah Utara, negara Shu di sebelah Barat Daya, dan negara Wu di sebelah Selatan.

Pada suatu waktu, negara Wei mengerahkan tentaranya untuk melakukan serangan ke negara Wu di sungai Yangtze. Pasukan Wei segera maju ke daerah yang lokasinya sangat berdekatan dengan negara Wu, kemudian mereka berhenti disana, mendirikan perkemahan dan menunggu kesempatan yang tepat untuk melakukan serangan ke negara Wu. Jika mereka memperoleh kemenangan, rencana selanjutnya adalah menaklukkan negara Shu.

Semenjak tentara negara Wei menjadi sangat kuat dengan memiliki tentara dan senjata dalam jumlah besar, negara Shu dan Wu memutuskan untuk bersatu guna menahan serangan dari negara Wei. Zhuge Liang, penasihat kemiliteran untuk negara Shu, menuju ke negara Wu untuk menyusun strategi militer bersama dengan Zhou Yu, Jenderal negara Wu, untuk bersatu berperang melawan musuh.

Bagaimanapun juga, Zhou Yu sangat cemburu pada ketrampilan Zhuge Liang. Ketika Zhou dan Zhuge sedang mendiskusikan tentang rencana strategi, Zhou bertanya, "Senjata militer apakah yang akan kita gunakan ketika ber-tempur melawan pasukan Cao Cao di sungai?" Zhuge menjawab, "Busur dan anak panah adalah senjata yang terbaik."

Zhou berkata, "Baiklah, saya akan mempertimbangkan pendapat Anda, tetapi kita hanya memiliki sedikit persediaan anak panah. Apakah saya dapat mempercayai Anda untuk membuat seratus ribu buah anak panah? Ini adalah pekerjaan yang benar-benar mendesak. Saya berharap Anda dapat membantu saya dan menerima pekerjaan ini."

Zhuge menjawab, "Baiklah, saya akan menerima perintah Anda dan melakukannya. Bolehkah saya bertanya kapankah Anda membutuhkan anak-anak panah tersebut?" Zhou mengatakan, "Dapatkah Anda menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam sepuluh hari?" Zhuge berkata, "Baiklah, karena pertempuran akan berlangsung sebentar lagi, kita akan mengalami kekalahan apabila kita memerlukan 10 hari untuk membuat anak-anak panah tersebut." Zhou Yu kemudian bertanya, "Tuan, berapa lamakah waktu yang Anda butuhkan untuk membuat 100.000 anak panah?" Zhuge kemudian menjawab, "Saya hanya membutuhkan waktu tiga hari."

Zhou sangat tercengang dan mengatakan, "Kita berada tepat pada arah jam sebelas dan tidak boleh mempermainkan satu sama lain." Zhuge menjawab, "Tidak, saya tidak berani bergurau pada saat kritis seperti ini. Saya bersedia menulis sebuah surat perjanjian: Jika saya tidak mampu membuat 100.000 buah anak panah dalam tiga hari, maka saya bersedia untuk dihukum."

Zhou sangat bahagia mendengarnya. Dia membuat Zhuge menulis surat perjanjian dan kemudian menghiburnya dengan minuman anggur serta makanan enak. Di meja perjamuan, Zhuge berkata, "Sekarang hari sudah larut malam, oleh sebab tiga hari terhitung mulai besok, kerahkan 500 orang tentara menuju pinggir sungai untuk mengumpulkan anak panah." Setelah meneguk sedikit cangkir minuman anggur lagi, Zhuge Liang kemudian beranjak pergi.

Sesudah Zhuge Liang menerima tugas tersebut, Dia tidak kelihatan cemas tentang bagaimana cara memenuhi perintah tersebut. Dia mengatakan kepada Lu Su, seorang menteri dari negara Wu yang memiliki sikap bersahabat terhadapnya, bahwa sangatlah mustahil membuat begitu banyak anak panah dalam waktu singkat seperti itu dengan memakai cara yang konvensional (biasa). Maka Zhuge kemudian meminta Lu Su membuatkan 20 buah kapal kecil yang telah siap dan menempatkan 30 orang tentara pada masing-masing kapal tersebut.

Kapal-kapal tersebut ditutupi kain hitam dan dibuatkan orang-orangan dari jerami lalu diletakkannya di setiap sisi kapal. Zhuge kemudian memohon Lu berulang kali agar menyimpan rencana rahasianya. Lu menyiapkan segala hal keperluan yang dibutuhkan Zhuge tanpa mengetahui apa-apa tentang rencana tersebut.

Zhuge Liang mengatakan bahwa dia akan memiliki 100.000 buah anak panah yang akan siap dalam tiga hari, akan tetapi pada hari pertama dia tidak akan membuat anak panah satu pun dan begitu pula pada hari kedua tidak ada satu anak panah apapun. Tepat di hari ketiga dan masih belum ada satu anak panahpun terlihat.

Semua orang mulai khawatir terhadap Zhuge. Jika dia tidak dapat menghasilkan anak-anak panah tersebut, dia akan kehilangan hidupnya. Pada tengah malam di hari kedua, Zhuge mempersilakan Lu naik ke kapal kecil dan kemudian Lu bertanya mengapa dia diundang naik ke atas kapal tersebut.

Zhuge menjawab bahwa dia ingin Lu pergi bersamanya untuk mengumpulkan anak panah. Lu Su seketika menjadi bingung dan bertanya, "Kemana kita akan pergi untuk mendapatnya?" Zhuge kemudian tersenyum dan berkata, "Ketika waktunya tiba, Anda akan mengerti." Kemudian Zhuge memberikan perintah untuk menghubungkan dua puluh kapal tersebut dengan tali kemudian mulai bergerak maju ke arah kamp tentara Wei.

Malam itu berkabut tebal. Kabut kian menjadi lebih tebal, semakin cepat kapal-kapal tersebut mendekati perairan, seperti apa yang diperintahkan oleh Zhuge Liang. Ketika mereka telah mendekati kamp tentara Wei, Zhuge memberikan perintah agar kapal-kapal tersebut ditempatkan berbaris berhadapan searah horizontal di sepanjang tepi sungai. Tentaranya memukul keras genderang dan berteriak memberi aba-aba.

Lu Su sangat ketakutan setengah mati dan berkata kepada Zhuge, "Kita hanya me-miliki 20 kapal kecil dan sekitar 300 orang tentara. Jika tentara Wei menyerang kita, kita sudah pasti dapat terbunuh." Tapi Zhuge berkata sambil tersenyum, "Saya bertaruh kalau pasukan tentara Wei tidak akan berani menyerang dengan cuaca berkabut tebal seperti ini. Kita dapat menikmati minuman kita di sini.

Jenderal pasukan Wei, Cao Cao, mendengar suara drum dan sorak-sorai dan memerintahkan pasukan tentaranya agar tidak menyerang karena kondisi kabut yang terlalu tebal membuat kesulitan melihat situasi. Dia malah memerintahkan pasukan pemanahnya agar menembakkan anak panah guna mencegah kedatangan musuh yang terlalu dekat.

Cao Cao memerintahkan lebih dari 10.000 pasukan pemanah untuk menembakkan anak panah ke arah sungai. Dengan segera, orang-orangan jerami di atas kapal dipenuhi dengan anak panah. Zhuge Liang menyuruh kapal untuk berputar balik agar orang-orangan jerami pada sisi kapal yang lain mendapat anak panah dari tentara Wei. Dalam waktu singkat semua orang-orangan jerami tersebut terisi oleh anak panah.

Di saat hari mulai menjelang dinihari, kabut masih terlihat tebal. Zhuge Liang menyuruh pasukan tentaranya berteriak dengan suara sekeras mungkin, "Terima kasih Perdana Menteri Cao karena Anda telah memberi kami begitu banyak anak panah." Mereka dengan segera berlayar kembali ke pinggir selatan sungai. Sebelum Cao Cao sadar bahwa dia telah diperdaya, arus mendorong kapal Zhuge dan dengan segera mereka telah berlayar pergi lebih dari 10 kilometer, dan sudah terlalu terlambat bagi Cao Cao untuk mengejar mereka.

Ketika kapal tiba di pangkalan Wu, ada 500 tentara Jenderal Zhou Yu menunggu di atas pinggir sungai guna mengumpulkan anak-anak panah tersebut. Jumlah anak panah yang terkumpul berjumlah lebih dari 100.000. Zhou Yu mengatakan dengan desah panjang dan berat, "Zhuge Liang mempunyai pemikiran ke masa depan dan strategi cerdik seperti seorang dewa. Saya bukanlah tandingan baginya.

Lu Su berkata kepada Zhuge Liang, "Tuan, Anda adalah seorang ahli spiritual, bukan seorang manusia! Bagaimana Anda dapat mengetahui bahwa akan ada kabut tebal?"

Zhuge menjawab, "Sebagai seorang jenderal, sudah semestinya mengetahui tentang ilmu astronomi, geografi, ramalan, prinsip yin dan yang, formasi dalam pertempuran, begitu juga susunan strategi tentara, atau di lain hal dia baik tanpa pamrih. Saya tahu tiga hari ke depan bahwa akan ada kabut tebal sehingga itulah alasan mengapa saya berani menyetujui batas waktu tiga hari." Mendengar ini, Lu Su semakin mengagumi bakat Zhuge Liang.

Sumber : Epochtimes.co.id

__._,_.___
Recent Activity:
-TODAY-
Live as if your were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.
(Gandhi)

.

__,_._,___
readmore »»  

16 Strategi Zhuge Liang

 
16 Strategi Zhuge Liang

(Sixteen Strategies of Zhuge Liang)



1. Memerintah Negara

Menjadi setepat Bintang Utara. Tahukah Anda bahwa memerintah negara sama seperti mengurus keluarga? Anda harus memiliki dasar yang benar. Sekali Anda benar, sisanya tidak akan salah. Dasar dari suatu keluarga adalah kepala keluarga, dasar dari suatu negara adalah kepala negara. Dalam memerintah negara, pemerintah sama seperti Bintang Utara, memimpin jalan. Karena itu, kepemimpinan yang kuat dan stabil serta rencana yang matang merupakan dasar bagi pertumbuhan suatu negara atau organisasi. Setiap negara yang kuat dan makmur selalu memiliki penguasa yang bijak. Seperti Bintang Utara, posisinya harus tetap benar untuk memberikan arah. Ia yang tak tentu arah, bodoh, dan pengecut, akan gagal dalam apa pun yang dilakukannya. Sebenarnya, kepemimpinan yang baik dan mantap tak dapat dipisahkan dalam suatu organisasi bisnis. Pemimpin harus sanggup menangkap kesempatan yang muncul dan menyelesaikannya.

2. Hubungan antara Penguasa dan Bawahan

Jadikan rasa hormat dan kesetiaan penghubung antara penguasa dan bawahannya. Penguasa harus memperlakukan bawahan dengan baik. Bawahan harus melayani penguasa dengan setia. Penguasa harus memperlakukan bawahan dengan adil. Bawahan harus melayani penguasa dengan patuh. Penguasa tidak hanya memerintah bawahan, tapi juga menunjukkan perhatian, perlindungan dan penghargaan. Seorang penguasa harus baik terhadap bawahan dan menghormati perasaannya. Bawahan harus menganggap kesetiaan sebagai kebajikan. Penguasa yang tidak mempercayai bawahan akan berakhir sendirian. Seorang penguasa yang bekerja dengan dekat dan rajin bersama bawahan akan selalu harmonis. Ini juga berlaku bagi seluruh eselon dari sebuah perusahaan.

3. Memperhatikan dan Mendengarkan

Menjadi pemimpin yang menguasai situasi dengan baik. Seorang penguasa harus membuka lebar mata dan telinga agar dapat menguasai situasi negara dengan baik. Anda tidak dapat mengatakan berpandangan tajam jika tak bisa melihat kesulitan bawahan. Anda tak bisa menyatakan berpendengaran tajam jika tak bisa mendengar rintihan bawahan.

4. Menerima Saran

Menerima ide orang lain. Kata-kata manis tidak dalam tapi dangkal. Seorang penguasa bijak harus bisa menerima saran, ide bahkan kritik dari orang lain. Seorang penguasa yang cakap harus mempunyai pegawai yang jujur dan lurus di sampingnya. Seorang penguasa yang bodoh hanya memiliki bawahan yang penjilat di sekitarnya. Obat yang baik terasa pahit dan saran yang baik juga demikian. Sungguh terpuji seseorang yang berkedudukan tinggi seperti Kaisar / GM dapat menerima kritik pedas.

5. Memahami

Memahami masalah sepenuhnya dan membuat batasan antara yang benar dan yang salah. Pejabat yang setia dan yang jahat berbeda tapi sulit mengatakannya dari penampilan saja. Orang akan salah jika hanya mendasarkan pada perkataan dan sikap luar saja. Seorang penguasa harus berhati-hati saat memutuskan apakah benar atau salah.

6. Mengatur Orang

Didiklah rakyat untuk memenangkannya. Seorang penguasa harus membiarkan bawahannya mengetahui tujuan dan rencananya sehingga mereka memahami kebijakan pemerintah. Pemerintah harus pertama-tama mendirikan seperangkat hukum yang jelas. Hukum harus diketahui sampai ke seluruh negeri. Bila rakyat bersatu, mereka dapat memenangkan pertempuran. Seorang pemimpin harus membuat rakyatnya mengerti dengan jelas kebijakan dan tujuan pemerintah. Hanya dengan demikian ia mendapat dukungan dan pengertian rakyatnya.

7. Pemilihan Orang

Carilah yang berguna dan pekerjakan yang bebakat. Salah satu cara penting memerintah negara adalah menempatkan orang yang mampu dan jujur pada posisi kunci untuk mengatasi penjilat yang licik dan penjahat yang tamak. Inti dari memelihara kesehatan adalah pengaturan nafas dan membangun energi vital. Inti dari memerintah negara adalah mencari yang berguna dan mempekerjakan yang cakap. Negara dengan pemimpin yang cakap adalah seperti rumah yang ditopang tiang-tiangnya.

8. Evaluasi Kinerja

Promosikan yang berjasa dan pecat yang kurang mampu. Jika seorang penguasa ingin istananya bersih dari korupsi dan negaranya kuat dan makmur, penting untuk mengevaluasi kinerja bawahannya. Kriteria apa yang dipakai dalam menaikkan pangkat atau memecat pejabat? Kriterianya adalah apakah mereka dapat memberikan kontribusi bagi keberhasilan organisasi. Sangat berbahaya jika dipengaruhi oleh perasaan dan kesukaan pribadi.

9. Administrasi Militer

Rencanakan dengan baik dan menangkan dengan strategi yang benar. Memobilisasi tentara, memulai peperangan dan membela negara merupakan masalah penting yang tak boleh diputuskan tergesa-gesa.

10. Hadiah dan Hukuman

Berikanlah hadiah dan hukuman untuk membentuk pemerintahan yang bersih dan efesien. Hadiah tak tergantung pada kedudukan tapi jasa Anda. Hukuman harus dilaksanakan tanpa pengecualian. Penguasa yang baik akan mendorong orang-orangnya mengemukakan pendapat dengan memberikan hadiah dan hukuman. Hasilnya, orang-orangnya dapat memberikan bantuan terbaik dalam usaha menyatukan negara.

11. Saat Emosi

Jangan menuruti emosi. Seorang penguasa harus tetap bisa menguasai emosinya dan mengendalikan diri. Seorang penguasa harus berwibawa dan tak cepat marah. Dia boleh menunjukkan kemarahan tapi tidak kehilangan akal sehat. Ia boleh bergembira tapi tidak berkelebihan. Ia juga tak boleh tenggelam dalam masalah pribadi dan melupakan pemerintahan negara.

12. Mengendalikan Kekacauan

Berhati-hati saat menghadapi situasi kacau. > Apa yang harus dilakukan saat pemerintahan sedang kacau? Pertama, kurangi jumlah staf dan kenakan disiplin ketat. Ok, segera dilakukan. Jika perbaikan tidak dilaksanakan dengan benar atau terburu-buru, akan terjadi kekacauan yang lebih besar. Reformasi harus dilaksanakan dengan hati-hati sesuai dengan kondisi yang ada di negara dan keinginan rakyat.

13. Pendidikan dan Perintah

Koreksi diri sebelum mengeluarkan perintah. Seorang penguasa yang malas tapi keras terhadap bawahan berarti menerapkan kebijakan yang buruk. Seorang penguasa yang tegas pada dirinya sebelum mengeluarkan perintah kepada bawahan berarti mempraktikkan kebijakan yang baik. Seorang penguasa yang tidak mempraktikkan apa yang dikatakannya akan kesulitan menerapkan perintah. Bila perintah tak dilaksanakan akan terjadi kekacauan. Penting untuk memberi contoh. Koreksi dirimu sebelum mengoreksi orang lain. Ini adalah prinsip kepemimpinan yang sederhana dan efektif tapi sering dilupakan.

14. Menghadapi Kesulitan

Bertindak tepat mengatasi masalah sebelum berkembang. Negara harus punya hukum seperti keluarga mempunyai peraturan. Hukum dan peraturan harus dipatuhi sejak dibuat. Jika melakukan tindakan yang benar sejak awal, tidak akan mengalami begitu banyak kerugian / kesulitan.

15. Melihat ke Depan

Berpandangan jauh ke depan dan membuat rencana dengan teliti. Seorang penguasa yang berpandangan pendek atau tidak membuat rencana dengan teliti akan penuh kecemasan.

16. Pengamatan

Membuat komitmen untuk sukses. Anda tak perlu pergi ke sungai untuk mandi bila Anda dapat mencuci kotoran di tubuh Anda sendiri. Anda tak perlu kuda unggulan selama ia dapat berlari cepat. Seorang penguasa harus menempatkan orang yang berbakat sehingga mereka dapat melakukan yang terbaik demi negaranya, tidak perduli status ekonomi dll. Orang yang berbeda memiliki pengalaman dan kemampuan yang berbeda pula. Pemimpin yang pintar harus mempergunakan sepenuhnya bakat berbagai orang tersebut untuk mengatasi kesulitan. Kelihatannya setiap orang memiliki kesempatan untuk berhasil. Kita tak boleh menyerah begitu saja.

sumber

http://www.gsn-soeki.com/wouw/
__._,_.___
__,_._,___
readmore »»